Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlas
Surat Al-Ikhlas merupakan surat ke 112 dalam
Al-qur'an. Surat ini merupakan golongan surat Makkiyah dan terdiri dari 4 ayat
yang mana pokok pembahasan dari surat ini adalah keesan Allah Swt dan menolak
segala bentuk penyekutuan terhadapNya.
Asbabun nuzul surat Al-Ikhlas:
sekelompok orang-orang Yahudi datang dan
berkata kepada Rasulullah Saw.
صِفْ
لَنَا رَبَّكَ
"Sifatilah Tuhanmu kepada kami!"[1]
Pertanyaan orang-orang
Yahudi ini adalah bentuk ta'anut, menolak dan melecehkan, bukan karena
cinta pada ilmu dan juga bukan dalam rangka mendapatkan petunjuk. Maka Allah
Swt pun menurunkan surat Al-Ikhlas:
قُلْ هُوَاللَّهُ اَحَدٌ ُ (سورةة الإخلاص:)
Artinya:
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”” (Q.S, Al-Ikhlas:1)
Maksudnya
adalah dzat yang tidak menerima berbilang banyak, Allah tidak memiliki sekutu
pada dzat, sifat atau perbuatan-Nya. Tidak ada satu-pun yang memiliki sifat
seperti sifat-sifat-Nya, sebaliknya Qudrah Allah Swt adalah qudrah yang satu,
yang dengannya Allah kuasa terhadap segala sesuatu. Ilmu Allah adalah satu,
dengannya Allah mengetahui segala sesuatu.
Firman
Allah Swt:
اَللّهُ اُلصَّمَدُ ُ (سورة الإخلاص:)
Artinya:
“ Allah adalah tuhan yang dibutuhkan oleh segala sesuatau”. (Q.S,
Al-Ikhlash: 2)
Maksudnya
dzat yang semua makhluk membutuhkan kepada-Nya, sedangkan ia tidak membutuhkan
terhadap segala sesuatu yang ada. Dzat yang dituju dalam kesulitan dan segala
macamnya. Allah tidak mengambil manfaat untuk dzat-Nya dengan makhluk-Nya dan
juga tidak menolak bahaya dari dzat-Nya dengan mereka.
Firman
Allah Swt:
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ْ (سورة الإخلاص)
Artinya:
“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”. (Q.S, Al-Ikhlas: 3)
Ayat
ini adalah penafian terhadap al-maddiyah (asal dari mahkluk) dan inhilal, yakni terpecah dari-Nya sesuatu atau ia bertempat pada
sesuatu. Sedangkan perkataan yang ada dalam kitab Mawlid al ‘Arus
bahwa Allah Swt menggenggam segenggam dari nur wajah-Nya, kemudia berkata
kepadanya: jadila engkau Muhammad, maka ia menjadi Muhammad, ini adalah
termasuk kebatilan yang disisipkan secara palsu. Hukum orang yang meyakini
bahwa Muhammad Saw merupakan bagian dari Allah Swt. Adalah dikafirkan secara
pasti. Demikian pula orang yang meyakini bahwa al Masih adalah bagian dari
Allah. Kitab ini bukanlah karya Ibn al Jawziyy Rahimullahu
dan tidak ada yang menisbatkan kitab tersebut kepada beliau kecuali seorang
orientalis yang bernama Brockelmann.
Firman Allah Swt :
وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ْ (سورة الإخلاص)
Artinya:
“ Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Q.S, Al-Ikhlas:4)
Maksudnya
tidak ada serupa bagi Allah, dari satu segi maupun semua segi.
SUMBER
REFRENSI: Ash- Shirath al Mustaqim (Jalan yang lurus), Alih Bahasa: Tim
Penerjemah Syahamah).
[1] Al
Bayhaqqy dalam al Asma’ wa ash-shiffat (hal.279) meriwayatkan dari ibn ‘Abbas
bahwa orang-orang yahudi datang kepada Nabi lalu berkata: Wahai Muhammad,
sifatilah untuk kami tuhan yang engkau sembah, maka turunlah surat Al-Ikhlas,
lalu Rasulullah bersabda:
هَذِهِ صِفَةٌ رَبِّيْ عَزَّوَجَلَّ
"Inilah sifat tuhanku (Allah) yang maha kuat dan maha agung”
Kayak makalah aja mbak ada footnot. Tapi lengkap kok buat referensi makalah...👍
ReplyDelete